Tantangan Pendidikan di Era Pandemi COVID-19

Ibu Sri Sepriyanti, S. Pd.selaku Guru Bimbingan Konseling di SMA Negeri 18 Palembang bersama beberapa peserta didik.

       Pada saat ini, dunia sedang dilanda masalah besar: berawal dari munculnya sebuah wabah, Covid-19, yang disebabkan oleh virus, sehingga hampir semua aspek kehidupan mengalami perubahan-perubahan yang semakin hari semakin mengkhawatirkan dan mendebarkan seluruh dunia.

    Saat ini, semua sektor telah merasakan dampak dari pandemi Covid-19, yang sudah melanda Indonesia sejak Maret 2019 lalu. Salah satu sektor besar yang terdampak akibat pandemi Covid-19 ialah sektor pendidikan. Kita harus mempersiapkan diri untuk menghadapi perubahan ini, karena dunia pendidikan, cepat atau lambat, akan mengalami perubahan drastis akibat pandemi Covid-19.

    Saat ini, pemerintah pusat telah mengeluarkan kebijakan untuk mengizinkan proses Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas, sebanyak 50%, pada daerah yang dianggap cukup aman untuk dilaksanakan proses PTM, terutama pada daerah yang sudah masuk kategori zona kuning dan zona hijau.

    Sebelumnya, ketika kasus pandemi Covid-19 sedang tinggi, pemerintah pusat telah mengeluarkan kebijakan, salah satunya meliburkan seluruh aktivitas tatap muka pada institusi pendidikan, dengan tujuan mencegah penularan virus Covid-19. Hal ini tentunya berdampak besar pada perkembangan pendidikan anak yang, saat ini, dituntut untuk belajar secara mandiri dan daring (dalam jaringan).

    Walaupun sebagian daerah di wilayah Indonesia sudah menerapkan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas, sebanyak 50%, masih banyak daerah di Indonesia yang menggunakan pembelajaran daring sebagai sarana kegiatan belajar mengajar pada institusinya.

    Pembelajaran daring merupakan sistem pembelajaran non-tatap muka antara guru dan siswa melalui jaringan internet. Hal ini menjadi tantangan besar bagi seorang guru, karena dalam kondisi seperti ini, guru harus mampu mengolah dan merancang materi pembelajaran sedemikian rupa, sehingga mencapai tujuan pembelajaran dan menghindari kebosanan siswa dalam pembelajaran online.

    Namun, dalam penerapan pembelajaran online ini, banyak sekali terjadi polemik-polemik di lapangan. Saat ini, masih banyak peserta didik yang mengalami kesulitan dalam belajar, yang disebabkan oleh beberapa faktor.

    Masih banyaknya siswa yang tidak memiliki gadget dan belum mengetahui banyak tentang penggunaan teknologi, kasus ini sebagian besar terjadi pada peserta didik tingkat TK dan SD. Selain itu, kendala utama yang dihadapi peserta didik adalah ketersediaan jaringan yang belum memadai. Hal ini menjadi tantangan besar bagi peserta didik dan tidak terkecuali bagi orang tua, karena orang tua harus membantu peserta didik dalam proses pembelajaran online. Pada kenyataannya, banyak orang tua yang tidak memahami penggunaan teknologi; hal ini tentunya akan menghambat aktivitas belajar peserta didik.

    Kurangnya interaksi fisik antara guru dan siswa juga menjadi salah satu faktor kesulitan pelaksanaan pembelajaran secara daring. Kurangnya interaksi fisik antara guru dan peserta didik, karena dalam pembelajaran daring, siswa hanya menerima tugas melalui WhatsApp. Sebagian besar peserta didik juga mengalami kesulitan dalam pengerjaan pekerjaan rumah tersebut, dikarenakan tidak mendapat penjelasan awal dari guru tentang tugas yang diberikan. Peserta didik hanya dituntut untuk mengerjakan tugas tanpa diberi penjelasan terlebih dahulu; akibatnya, banyak peserta didik yang mengeluh dan tidak bersemangat lagi dalam mengerjakan tugas.

    Banyaknya tugas yang diberikan oleh guru juga menjadi masalah bagi peserta didik, sedangkan waktu yang diberikan sangat singkat. Bagaimana bisa peserta didik belajar dengan baik dalam kondisi seperti ini?

    Adapun faktor kurangnya interaksi langsung antara guru dan peserta didik menjadi tantangan bagi guru untuk mengatasi berkurangnya nilai intrinsik atau nilai kepribadian pada peserta didik. Berkurangnya nilai intrinsik atau nilai kepribadian ini mengakibatkan terjadinya degradasi moral pada anak atau siswa, karena tugas guru tidak hanya mengajar dan memberikan ilmu (pelajaran), tetapi juga mendidik (pembentukan akhlak dan karakter) peserta didik.

    Namun, selain faktor yang menjadi hambatan di atas, ada pula beberapa faktor yang bagus untuk diterapkan pada dunia pendidikan Indonesia ke depannya, di mana guru dan peserta didik bisa mendapatkan pembelajaran IT guna lebih mempermudah proses pembelajaran. Baik guru maupun siswa bisa memanfaatkan akses teknologi dan media pembelajaran yang tersedia guna mendapatkan lebih banyak informasi dan referensi dari berbagai sumber untuk belajar.

    Sejak pandemi Covid-19 ini, banyak sekali lembaga atau institusi yang mengadakan pelatihan atau seminar secara daring (melalui Zoom, Google Meet, dan platform lainnya) dengan narasumber yang berkompeten pada bidangnya. Hal ini sangat bermanfaat dan menguntungkan bagi peserta didik jenjang SMA dan perguruan tinggi, karena mereka bisa mengikuti pelatihan atau seminar yang diadakan di luar wilayah mereka tanpa harus hadir dan bisa dilakukan secara fleksibel di mana saja melalui gadget yang mereka miliki.

    Sebagai contoh, kini peserta didik kelas akhir pada jenjang SMA bisa mengikuti latihan pembahasan soal-soal ujian atau Try Out, untuk mempertajam dan memperdalam bekal mereka dalam menghadapi ujian akhir.

    Bagi guru, pandemi Covid-19 ini juga merupakan tantangan tersendiri untuk menyiapkan dan menyajikan materi atau bahan ajar yang kreatif, kekinian, mudah dipahami, dan tidak membosankan bagi peserta didik, sehingga mereka bisa lebih semangat dan mudah memahami materi yang diajarkan.

    Di balik kehadiran pandemi Covid-19 yang melanda seluruh belahan dunia, termasuk Indonesia, kita harus mampu mengambil hikmahnya. Pandemi Covid-19 ini bisa saja datang sebagai ujian untuk kita semua; namun, pandemi ini juga bisa menjadi jalan untuk kita beradaptasi dengan perkembangan zaman dan kemajuan di bidang teknologi saat ini. Dan, pastinya, menjadi PR bagi kita semua: apakah kita tetap mampu mencerdaskan kehidupan bangsa di dalam kondisi seperti ini.


Ditulis oleh: Ibu Sri Sepriyanti, S. Pd. (Guru Bimbingan Konseling SMAN 18 Palembang).
Dalam rangka pemenuhan tugas PPG Daljab 2021.

Tidak ada komentar untuk "Tantangan Pendidikan di Era Pandemi COVID-19"