Musuh Terbesar Pahlawan Gen Z Bukan Penjajah, Tapi Rasa Takut Gagal.

Setiap tahunnya pada tanggal 10 November, kita memperingati Hari Pahlawan Nasional. Penetapan 10 November sebagai Hari Pahlawan ini dimulai pada tahun 1959, ditandai dengan keluarnya Keppres No. 316 Tahun 1959 tentang Hari-Hari Nasional Jang Bukan Hari Libur.

Pada tahun ini (2025), tema peringatan Hari Pahlawan digagas oleh Kemensos dengan tema "Pahlawanku Teladanku, Terus Bergerak, Melanjutkan Perjuangan." Tema ini melambangkan semangat generasi penerus yang meneladani perjuangan para pahlawan dan terus melangkah maju dengan jiwa nasionalisme yang kuat untuk meneruskan perjuangan demi Indonesia Emas.

Membahas tentang pahlawan, bayangan kita pasti langsung tertuju pada perang, kehancuran, kekacauan, dan bambu runcing. Tidak salah, karena para pejuang kita dulu memang berperang melawan penjajah demi kemerdekaan Indonesia. Mereka menghadapi kekacauan dengan peralatan seadanya, seperti bambu runcing.

Tapi di tahun 2025 ini, ketika kita hidup di negara yang kondusif tanpa perang fisik seperti di negara lain, apakah kata "perjuangan" itu masih relevan untuk kita sebagai Generasi Z?

Jawabannya: sangat relevan.

Bedanya, medan perang kita telah bergeser. Musuh terbesar kita saat ini bukanlah tentara penjajah, melainkan rasa takut yang ada di dalam diri kita sendiri

Melawan Musuh di dalam Diri

Kenapa saya bilang perangnya terhadap rasa takut? Sederhana: bagaimana kita bisa melawan musuh di luar (seperti hoaks atau ketidakadilan) jika kita tidak bisa melawan musuh di dalam diri kita?

Lalu, bagaimana dengan "rasa malas" yang juga sering dituding sebagai musuh generasi kita? Keduanya berkaitan erat

Rasa takut yang saya maksud, takut gagal, takut dihakimi, takut tidak sempurna, seringkali menjadi akar dari prokrastinasi (menunda-nunda). Kita tidak berani memulai sesuatu bukan karena murni 'malas', tapi karena kita lumpuh oleh overthinking dan skenario terburuk di kepala kita.

Ketakutan inilah yang membuat kita "minta alem" (meminjam istilah Palembang), manja, memilih diam, dan akhirnya terlihat seperti pemalas. Jadi, perang pertama harus dimenangkan melawan rasa takut untuk berani memulai.

Medan Perang Digital

Setelah kita berani memulai, di mana medan perangnya? Di era serba digital.

Tidak bisa dipungkiri, pasca-pandemi COVID-19, sistem dunia berubah ke digital. Jangankan hal kompleks, hal sederhana pun beralih. Kita pesan makanan via aplikasi atau rapat via Zoom. Ini bukan lagi soal "malas" atau "takut keluar rumah", tapi ini adalah bukti efisiensi dan realitas baru. Dunia kita kini ada di genggaman tangan.

Ini berarti, bagi Generasi Z, tugas dan tanggung jawab kita adalah berperang dan menjadi pahlawan di medan pertempuran baru, yaitu medan perang digital.

Perang ini bukan soal adu senjata, tapi soal adu gagasan dan konten. Musuhnya pun adalah "penjajah digital", mereka yang suka menyebar hoaks demi memecah belah bangsa, mereka yang melawan dengan konten negatif dan tidak mendidik, serta mereka yang mencoba menjajah ideologi kita secara digital.

Belajar, Berkarya, dan Peduli

Bagaimana cara kita "berperang" di medan digital ini? Jawabannya ada pada quote yang terdapat pada poster diatas "Lanjutkan perjuangan dengan caramu: belajar, berkarya, dan peduli."

Ini adalah tiga senjata utama kita:

  • BELAJAR: Pahlawan dulu belajar strategi militer. Pahlawan Gen Z "belajar" untuk kritis. Di era gempuran "penjajah digital", belajar memverifikasi informasi sebelum menyebarkannya adalah bentuk bela negara yang paling dasar.
  • BERKARYA: Perang ini adalah perang konten. Kita tidak bisa hanya diam. Kita melawan konten negatif dengan "berkarya", menjadi content creator yang edukatif, desainer yang membuat campaign positif, atau penulis yang mencerahkan. Karya positif kita adalah amunisi kita.
  • PEDULI: Apa yang membedakan "perang" kita dengan sekadar membuat konten? Niatnya. Kita "belajar" dan "berkarya" karena kita "peduli". Kita peduli pada isu kesehatan mental, kita peduli pada lingkungan, kita peduli pada politik yang bersih. Tanpa rasa "peduli", perjuangan kita akan hampa.

Maka dari itu, "Pahlawanku Teladanku" di tahun 2025 bukanlah ajakan untuk mengangkat bambu runcing, tapi ajakan untuk menaklukkan rasa takut di kepala kita.

Sudah saatnya kita "Terus Bergerak, Melanjutkan Perjuangan" dengan senjata paling modern yang kita miliki: keberanian untuk Belajar, kekuatan untuk Berkarya, dan hati untuk Peduli.

Tidak ada komentar untuk "Musuh Terbesar Pahlawan Gen Z Bukan Penjajah, Tapi Rasa Takut Gagal."